Senin, 19 Desember 2011

STAPHYLOCOCCUS AUREUS


Staphylococcus aureus merupakan bakteri berbentuk bulat yang terdapat dalam bentuk tunggal, berpasangan, tetrad atau berkelompok seperti buah anggur, jenis tidak bergerak, tidak berspora, dengan diameter 0.7 – 0.9 um, famili micrococcaceae dan termasuk gram positif.
Pembentukan kelompok  pada staphylococcus karena pembelahan sel terjadi dalam tiga bidang dan sel - sel anaknya cenderung untuk tetap berada di dekat sel induknya.
Nama bakteri ini berasal dari bahasa latin “ Staphele “ yang artinya anggur.
Beberapa spesies memproduksi pigmen berwarna kuning sampai oranye, misalnya staphylococcus aureus.
50 % penduduk membawa staphylococcus aureus dalam saluran pernafasan yaitu hidung dan kerongkongan. Daerah penyebarannya meliputi udara, debu, bahan - bahan pakaian ( pakaian jadi, tempat tidur dan kerajinan tangan ), lantai, air, sampah dan serangga.
Staphylococcus aureus biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan yang dikonsumsinya, tangan, kontaminasi dan keracunan pangan oleh staphylococcus aureus dapat juga disebabkan kontaminasi silang.
Organisme dengan mudah berpindah ke kulit terutama tangan dan rambut. Staphylococcus juga biasa menginfeksi luka, bisul dan luka terbuka. Organisme tersebut juga dijumpai pada hewan lembu dan kambing serta dalam susu segar.
Staphylococcus aureus disebarkan oleh pengelola pangan, selama pemasakan dan penyimpanannya. Penanganan pangan dengan tangan yang tidak menggunakan peralatan memadai merupakan cara penyebaran yang paling umum, terutama jika orang yang menangani pangan mengalami infeksi atau luka pada tangannya. Batuk dan bersin dekat dengan pangan dapat menyebabkan kontaminasi. Rambut yang jatuh pada makanan atau menggantung ( terurai ) dekat dengan makanan juga dapat menimbulkan bahaya.
Sebagian besar pencemar staphylococcus aureus berasal dari susu murni. Staphylococcus aureus dapat mencemari makanan dalam penyimpanan bersuhu 40 C sampai 600 Cdalam jangka waktu yang lama, proses pasteurisasi, pemanasan ultra tinggi dan pemasakan normal tidak mampu merusak enterotoksin staphylococcus aureus, dikarenakan relatif stabil dengan panas dan mampu bertahan pada pemanasan suhu air mendidih 100 0 C selama 10 menit.   

Sifat –sifat staphylococcus aureus



Bakteri staphylococcus aureus mempunyai beberapa sifat yaitu :
1. Pathogen
    adalah menyebabkan penyakit tipe toksin.
2. Memproduksi enterotoksin
    Enterotoksin adalah toksin yang spesifik terhadap sel di dalam sel usus halus dan       
    Menimbulkan gejala keracunan makanan.
    Toksinnya dapat bertahan pada suhu air mendidih 100 0 C selama 10 menit.
    Bakter staphylococcus aureus mudah mati karena panas , pemanasan pada suhu 660 c
    selama 10 menit.
3. Memproduksi koagulase
    yaitu bersifat menggumpalkan plasma.
4. Proteolitik, Lipolitik dan betahemolitik
    Proteolitik : bersifat menguraikan protein menjadi asam amino ( senyawa Nitrogen )
    Lipolitik    : bersifat menghidrolisis lemak menjadi asam lemak ( penguraian molekul
    dengan penambahan air ).
    Betahemolitik : proses lisis yang sempurna menyebabkan perubahan nyata pada media  
    ( jernih ).
5. Aerob fakultatif
     yaitu mampu tumbuh dalam lingkungan dengan atau tanpa oksigen ( O2  ).

Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus


Pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan mikroba : panas, konsentrasi ion hydrogen ( pH ), adanya air, oksigen dan cahaya mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme. Enzim dapat mempercepat reaksi kimiawi.
v  PH ( Derajat keasaman )
      Bakteri pathogen toleransi terhadap asam lebih kecil
-          Minimum   : 4.0
-          Optimum    : 6.0 – 7.0
-          Maksimum : 9.8 - 10
v  aW ( Water activity ) / kelembaban
      Yaitu banyaknya air dalam pangan yang tersedia untuk digunakan oleh   m.o
-          Minimum   :  0.86
-          Maksimum :  0.98

v  Suhu
Suhu / temperature merupakan faktor fisis yang sangat penting dan mempunyai   pengaruh besar terhadap pertumbuhan mikroorganisme. Sehingga perubahan temperatur akan berpengaruh langsung terhadap sistim enzim bakteri. Pada suhu optimum pertumbuhan bakteri berlangsung dengan cepat. Diluar kisaran suhu optimum, pertumbuhan bakteri menjadi lambat atau tidak ada pertumbuhan. Suhu juga dapat mempengaruhi pembentukan pigmen, ini berarti bahwa pigmen hanya dihasilkan bila diinkubasikan pada suhu tertentu. Bakteri staphylococcus aureus termasuk mesofil, yaitu mikroorganisme yang tumbuh cepat pada kisaran suhu 200C - 500C.  Kisaran suhu yang sesuai untuk pertumbuhan bakteri
      Staphylococcus aureus adalah :     
-          Minimum       :  7 – 11 0 C, suhu terendah dimana mikroorganisme masih dapat tumbuh.
-          Optimum    : 37 0 C, suhu dimana enzim berfungsi dengan sempurna / mikroorganisme tumbuh sempurna.
-          Maksimum        : 48 0 C, suhu tertinggi dimana mikroorganisme masih dapat tumbuh.

v  Nutrisi ( Makanan )
      Semua mikroorganisme memerlukan nutrient yang akan menyediakan :
Ø  Energi, biasanya diperoleh dari substansi mengandung karbon
Ø  Nitrogen untuk sintesis protein
Ø  Vitamin dan yang berkaitan dengan faktor pertumbuhan
Ø  Mineral
Ada 2 jenis nutrisi dasar , organisme dapat bersifat heterotrofik dan autotrofik. Organisme heterotrofik mirip dengan hewan, karena mereka memerlukan substansi organik komplek separti protein dan karbohidrat untuk makanannya. Beberapa diantaranya dapat mempergunakan substansi dalam upaya untuk memperoleh makanan yang diperlukan, sedangkan yang lainnya menuntut lebih spesifik dan hanya tumbuh pada jenis makanan tertentu. Ada yang mensintesis vitamin seperti bakteri yang terdapat dalam usus dan yang lainnya harus memiliki vitamin yang mencukupi dari substrat. Keperluan vitamin pada bakteri dan mikroorganisme tidak sama dengan manusia.

 Tanda – tanda dan gejala keracunan Staphylococcus aureus

Keracunan makanan dari Staphylococcus aureus disebabkan oleh racun yang diproduksi selama pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme tersebut dalam makanan. Racun yang telah ada di dalam makanan apabila tertelan dapat mengiritasi permukaan lambung dengan sangat cepat, antara lain dengan tanda – tanda :
1.    Periode inkubasi : 2 – 6 jam , yaitu waktu antara saat makanan tercemar dimakan dengan munculnya gejala pertama.
2.    Dosis toxic : 1 mg toksin  ( 1 ng / g makanan ), yaitu jumlah racun yang dapat menyebabkan keracunan.
3.    Lama sakit : 24 jam , biasanya pasien dapat sembuh dari gejala – gejala keracunan dalam jangka pendek sekitar 1 – 2 hari.
4.    Gejala _gejala : muntah – muntah berat, kram perut, diare terkadang sampai pingsan.


Pencegahan atau upaya untuk mengurangi resiko keracunan oleh Staphylococcus aureus


Tindakan yang harus dilakukan oleh pengelola pangan adalah :
1.    Harus dipelihara standar hygiene yang tinggi bagi setiap orang
2.    Pangan yang mudah menyebabkan keracunan oleh Staphylococcus harus disimpan dalam pendingin.




 Analisis Staphylococccus aureus

              Untuk deteksi awal, ditujukan guna mengetahui adanya Staphylococcus aureus pada bahan baku dan finished good . Staphylococccus aureus tahan garam dan tumbuh baik pada medium yang mengandung 75 % NaCl serta dapat memfermentasi mannitol.Untuk melakukan analisa mikrobiologi yang bertujuan untuk mengetahui adanya bakteri Stsphylococcus aureus dalam suatu contoh dipergunakan suatu media. Media diramu oleh ahli mikrobiologi untuk menjaring dan membedakan mikroorganisme. Media yang digunakan “ media selektif “, adalah media biakan yang mengandung paling sedikit satu bahan yang menghambat perkembangbiakan mikroorganisme yang tidak diinginkan dan membolehkan perkembangbiakan mikroorganisme tertentu yang ingin diisolasi. Bahan yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme adalah antibiotic.
Pengujian bakteri Stphylococcus aureus dilakukan dalam 2 tahap, yaitu uji kualitatif dan uji kuantitatif.
  • Uji kualitatif dimulai dengan tahap “ enrichment “ pada medium cair selektif giolitti cantoni  kemudian dilanjutkan dengan tahap seleksi dan isolasi pada medium padat BPA ( Baird parker agar ) . Setelah tahap seleksi dan isolasi dilanjutkan dengan identifikasi dan typing koagulase. Tahap enrichment pada medium cair selektif Giolitti cantoni bertujuan untuk memperbanyak sel atau “ enrichment “. Pada tahap ini pada setiap contoh ditambahkan kalium tellurite yang bertujuan untuk  menghambat pertumbuhan mikroba selain Staphylococcus aureus.
  • Uji seleksi dan isolasi pada medium padat selektif BPA yang diberi Egg yolk ( EY ) tellurite enrichment digunakan untuk mendeteksi staphylococcus aureus yang bersifat koagulase positif di dalam contoh. Medium juga ini mengandung piruvat dan glisin untuk merangsang pertumbuhan staphylococcus .









   Tahapan analisa Stapylococcus aureus
Contoh uji

 
     
  
                        


Penimbangan
 
 


     







IDENTIFIKASI


          Mikroba tidak memiliki ciri anatomi yang nyata, sehingga identifikasi bakteri didasarkan pada morfologi, sifat biakan dan sifat biokimia. Pada tahap seleksi menggunakan BPA koloni yang diduga staphylococcus aureus dapat diseleksi langsung dari cawan Petri berisi medium selektif yang ditumbuhi koloni yang spesifik staphylococcus aureus.
Uji koagulase dan uji – uji biokimia terutama ditujukan untuk membedakan staphylococcus yang bersifat pathogen ( Staphylococcus aureus ) dan non pathogen ( Staphylococcus epidermidis ). Uji koagulase ini kebanyakan staphylococcus yang bersifat koagulase positif akan menggumpalkan plasma dalam satu jam , apabila dalam satu jam belum menggumpal dilanjutkan pengamatan setelah 3 jam . Uji dinyatakan positif staphylococcus aureus meskipun penggumpalan yang terjadi hanya sedikit. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar